Selasa, 14 Oktober 2008

RESESI DUNIA

Press Release untuk Aksi bersama

Bank Dunia Penyebab Krisis Iklim, Krisis Finansial dan Krisis Pangan


Jakarta, 14 Oktober 2008. Utang dari Bank Dunia untuk membiayai industri ekstraktif seperti batu bara , minyak dan gas merupakan faktor utama penyebab krisis iklim. Setiap tahun utang milyaran dolar digunakan untuk membiayai proyek yang menghancurkan lingkungan dan iklim. Proyek di industri ekstraktif, pembangunan dam besar dan pengembangan agrofuel. Sementara utang tersebut dibayar lewat anggaran publik, perusahaan transnasional mengeruk keuntungan dari proyek tersebut.

Bank dunia adalah pemberi utang terbesar untuk industri ekstraktif. Sejak tahun 1992 lebih dari 133 paket utang dengan total mencapai US$28 Milyar. Selama 3 dekade Institusi Keuangan Internasional menjadikan utang sebagai alat untuk mengintervensi kebijakan negara selatan termasuk Indonesia yang mendorong liberalisasi keuangan, ekstraksi kekayaan alam dan konsentarasi kekayaan pada segelintir orang serta penghisapan ekonomi negara selatan oleh negara utara dan perusahaan transnasional. Mendorong pola pembangunan neoliberal yang menyebabkan terjadinya krisis iklim, finansial dan pangan.
Extractive Industries Review (EIR), yang merupakan komisi evaluasi independen dari aktivitas-aktivitas Bank Dunia di sektor ekstraktif, merekomendasikan bahwa Bank Dunia harus segera menghentikan utang untuk program-program batubara dan keluar dari proyek-proyek utang untuk minyak pada tahun 2008. Akan tetapi, justru utang Bank Dunia untuk proyek-proyek minyak meningkat hingga 93% dari US$450 Juta ke US$869 Juta dari tahun keuangan 2005 ke 2006.
Sedangkan pada tahun 2008 utang Bank Dunia untuk minyak dan gas naik sebesar 97% dari tahun 2007, dengan total sebesar $3 Milyar. Untuk pembiayaan batu bara saja jumlah utang tersebut naik 256% dari tahun 2007. di Indonesia, utang Bank Dunia lewat IFC untuk PT. Adaro Energy Tbk sebesar $25 Juta mendorong penggunaan batu bara sebagai sumber energi yang menyebabkan kerusakan lingkungan.
Dengan track record seperti itu Skema utang baru Bank Dunia untuk perubahan Iklim (climate investment fund) yang mencapai US$ 5 Milyar tidak lebih dari upaya untuk memanfaatkan krisis iklim demi keuntungan Bank Dunia.
Oleh karena itu dalam rangkaian Pekan Aksi Global Melawan Utang dan Lembaga Keuangan International (Global Week of Action Against Debt and IFIs) pada tanggal 13-18 Oktober 2008 yang dilaksanakan serentak diseluruh dunia. Kami menyatakan:
1. Mendesak pengahapusan utang yang tidak sah (illegitimate debt) Bank Dunia yang menyebabkan terjadinya krisis Iklim.
2. Menolak skema utang baru Bank Dunia untuk perubahan iklim (Climate insvestment fund)
3. Menolak skema utang untuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim
4. Mendesak pengakuan dan pembayaran utang ekologis (ecological debt) negara utara ke negara selatan.

Koalisi Anti Utang, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Serikat Petani Indonesia, Solidaritas Perempuan, Civil Society Forum on Climate Change
Contact Person: Dani Setiawan (08129671744) , Berry Nahdian F (08125110979)

Devi R. Ayu Media Relation
(WALHI - Friends of The Earth Indonesia)
Jl. Tegal Parang Utara no.14 Jakarta 12790
Phone : +62 21 794 1672, 7919 3363
Fax : +62 21 794 1673
Mobile Phone: +62 8156 100 353
Email : relasi.media@ walhi.or. id
devi@walhi.or. id
------------ --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- ------"Keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, namun kemampuan untuk menghadapi rasa takut dan berkata 'aku mensyukuri apa yang aku rasakan saat ini'. Dan apapun yang dirasakan saat ini, aku akan terus maju ke depan!"- Philip Baker - (YS. as Mediacare Release 9.14am/15Oct2008)

Tidak ada komentar: